Faire une resevation

yorris aine beaucoup faire un voyage. Chaque annees il passe les vacances dans un endroit ou il peut voir la belle nature. La montagne, la mer, le lac etc. Cette annee, il va se deplacer a Bandung avec son copin Mario. Ils sont a Gambir maintenant, au guichet.

Yorris        : Bonjour, j’ai besoin deux billets, s’il vous plait. Second classe.
L’employee    : il n’ y a plus de billet de secod classe.
Yorris        : Je prends la prenuiere classe. Combien ca coute?
L’employee    : 50.000 Rupiah pour un billet.
Yorris        : Bon. J’en prends deux.
L’employee    : Voila vos billets. Le train va partir a 8 h.25.
Yorris        : C’est a L’heure?
L’employee    : Oui, bien sur.
Yorris         : Quelle quai?
L’employee    : La quai numero 2. bon voyage.

Respondez aux question!

I.    a. Combien de personnes parlent?
b. Ou se passe ce dialoque?
c. Qu’est - ce que Yorris aime?
d. Gambir, qu’est - ce que c’est?
e. Ou va Yorris?
f. Il fait le voyage?
g. A quelle heire part il ce train?
h. Quelle quai?
i. Le billet. Combien ca coute?
j. Yorris prend le billet en quelle classe?

II.    D’aprers vous comment est notre ecole SMA 47? Racontez, faite en cing pharases mininal!
III.    Racontez en madame Saurma en cinq pharases minimal!
IV.    Ou est se trouve SMA 47?
V.    Ecrivez votre identite!

Pribadi yang Adil

Secara harfiah, adil artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Karena itu, adil adalah memberikan hak kepada setiap orang yang berhak dan menghukum orang yang bersalah sesuai dengan tingkat kesalahannya. Salah satu perintah Allah SWT tentang penegakan keadilan, termaktub dalam QS Annisaa’ [4]: 58, ”Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Setiap kebaikan pasti ada nilai keutamaannya, begitu pula menegakkan keadilan. Paling sedikit ada tiga keutamaan yang akan diperoleh dalam kehidupan dunia dan akhirat apabila mengutamakan keadilan.

Pertama, lebih dekat kepada takwa. Setiap Muslim tentu ingin menjadi atau termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang takwa, karena hal itu merupakan orang yang paling mulia di hadapan Allah SWT. ”Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.” (QS Almaa’idah [3]: 8).

Kedua, dicintai Allah SWT. Setiap orang berusaha agar memiliki sifat yang membuat Allah SWT menjadi cinta kepada kita, dan salah satunya adalah berlaku adil. ”… dan berlakulah adil. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Alhujuraat [49]: 9).

Yang ketiga, akan memperoleh keselamatan. Keselamatan di dunia dan akhirat merupakan dambaan setiap insan, apalagi bagi kaum Muslimin. Setiap manusia akan berlomba-lomba agar bisa selamat dan berusaha memperolehnya. Salah satunya adalah berlaku adil, baik kepada orang yang kita suka, maupun kepada orang yang kita benci. ”Ada tiga perkara yang dapat menyelamatkan: takut kepada Allah, baik pada waktu sembunyi (sepi) maupun terang-terangan; berlaku adil, baik pada waktu rela maupun marah; dan hidup sederhana baik waktu miskin maupun kaya.” (HR Thabrani dari Anas RA).

Oleh karenanya, kita dituntut sesuai dengan suruhan agama untuk selalu berlaku adil, karena memahami adil tidak cukup hanya dengan teoretis, khawatir zalim pada yang lain, namun harus ada nilai aplikatifnya, karena sudah menjadi tugas kita semua untuk menegakkan keadilan dan menghancurkan kezaliman dalam berbagai bentuknya dalam kehidupan ini, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, tetangga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ayat Ayat Cinta, Film yang Tidak Merugikan

Fyuh, capek banget nih. Abis pulang sekolah ada yang ngajakin nonton pilem Ayat-Ayat Cinta, berhubung belon pernah nonton ya udah sikat aja (apalagi dibayari…).

Sang pentraktir yang tidak lain dan tidak bukan adalah guru agama saya semasa SMP dulu dengan tak biasanya dia antusias ngajak pergi ke bioskop padahal biasanya dia anti tempat yang begituan, setelah dijelaskan mau nonton apa saya baru maklum. Katanya, temen-temen guru yang laen di ruang guru heboh ngomongin itu pilem, dan entah bagaimana pilem tersebut katanya diputer pake proyektor di ruang komputer (padahal setau saya versi original CDnya belom ada). Daripada bingung-bingung mikirin bajakannya, akhirnya saya lebih memilih mikir bioskop mana yang akan saya sambangi.

Akhirnya pilihan pun jatuh kepada bioskop 21 PIM 1. Dari awal masuk bioskop, sudah mulai terlihat pemandangan berbeda dari biasanya, yaitu tingginya animo orang tua untuk nonton, padahal untuk film yang biasa diputar tidak sebanyak ini.

Akhirnya saya dengan tenang mulai menikmati jalannya pilem tersebut, dan entah kenapa atau bagaimana di tengah-tengah pilem ini saya ada perasaan syahdu dengan mata berkaca-kaca memandangi rentetan kejadian di dalam film ini.

Singkat cerita (namanya juga catatan kecil) film pun berakhir dan saya bersama sang pentraktir (alias guru agama saya) pergi meninggalkan bioskop. Dan inilah untuk pertama kalinya saya tidak merasa dirugikan sehabis menonton film (yaiyalah, namanya juga ditraktir). Tapi, secara garis besar, menurut saya yang buta akan sinematografi film ini bener-bener KEREN! Baik dari segi visualisasi maupun jalan cerita sehingga saya benar-benar merasa excited dan puasss serta tidak merasa dirugikan dengan filmnya (selain karena dibayarin). Jangan lupa nonton pilemnya selain karena moral valuenya bagus, juga valuenya kalo di hari-hari tertentu bagus (baca:hemat). Hidup perfileman Indonesia.

Tegar

Pada suatu hari Rasulullah mengajak para sahabatnya berjalan-jalan ke luar Kota Makkah. Saat itu berbagai gangguan fisik terhadap Rasul dan sahabatnya mencapai titik klimaks. Penderitaan kian lengkap dengan wafatnya istri dan paman Rasulullah, dan diberlakukannya blokade ekonomi terhadap Bani Hasyim serta para sahabat Rasul.

Akibatnya mereka kekurangan pangan, kesehatan, dan terancam keselamatannya. Ketika Rasul dan para sahabat sampai ke suatu tempat dan beristirahat, berkata seorang sahabat, ”Ya Rasulullah, kita saat ini mengalami penderitaan yang luar biasa. Penyiksaan fisik sudah terbiasa kami alami, kekurangan makanan dan keselamatan melengkapi penderitaan kami. Bagaimana kalau untuk sementara kita hentikan dulu dakwah ini, kita bangun dulu perekonomian. Setelah kuat baru kita lanjutkan dakwah ini.”

Tidak lama berselang Allah SWT menurunkan wahyu sebagai jawaban terhadap keluhan sahabat tersebut. ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS-Al Baqarah [2]: 195).

Dari kisah tersebut Allah memerintahkan kita meski dalam kondisi kekurangan harta, melonjaknya harga kebutuhan hidup, sulit mendapat pekerjaan, bahkan dalam kondisi keselamatan terancam, agar tetap tegar dan tidak berputus asa. Sebaliknya dengan harta dan kemampuan yang ada, kita dianjurkan tetap berbuat baik dengan menyedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain. Apabila berkeluh kesah apalagi sampai berputus asa, berarti kita menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan.

Apabila kita tetap tegar dan bersabar atas berbagai krisis kehidupan, maka Allah memberikan balasan (pahala) dua kali lipat. Allah SWT berfirman, ”Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka.” (QS Al-Qashash [28]: 54).

Diriwayatkan oleh ‘Atha’ dari Ibnu Abbas, ketika Rasulullah SAW masuk ke tempat orang-orang Anshar, beliau bertanya, ”Apakah kamu semua orang beriman?” Mereka diam. Maka Umar menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah!” Nabi SAW bertanya, ”Apakah tandanya keimanan kamu itu?” Mereka menjawab, ”Kami bersyukur atas kelapangan. Kami bersabar atas ujian. Dan kami rela dengan ketetapan Allah.” Lalu Nabi SAW menjawab, ”Demi Tuhan pemilik Ka’bah! Benarlah kamu semua adalah orang beriman!”

Astaghfirullah, mata ini….

bismillah….

Hari ini saya begitu sadar bahwa ternyata memang sekolah itu bukan lagi lembaga pendidik yang sebagai mana mestinya. Yah, coba aja liat seragan anak SMA sekarang, yang keluar-keluar lah, yang kekecilan lah, yang dimodif lah, semua itu (katanya) biar terlihat gaul gitu. Saya nggak habis mikir, kita ini sekolah buat belajar atau cuma gaul?

Saya mengerti bahwa sekolah saya adalah sekolah negeri yang bukan sekolah agama yang mewajibkan seluruh murid dan gurunya menutup aurat, tapi ya mbok tho walaupun bukan sekolah agama kan udah ada peraturan pemerintah yang ngatur tentang seragam anak sekolahan, jadi apa bener jargon yang mengatakan bahwa peraturan ada untuk dilanggar?

Masak itu ya, baju-baju kekecilan, rok-rok kependekan, masih juga dipake sama orang-orang yang ngakunya terdidik dan terpelajar (walau entah dididik sama siapa dan diajar sama siapa). Sampai tersandung saya gara-gara memalingkan muka ini karena tiba-tiba di depan saya ada kawan (?) sebaya saya yang busananya bikin saya bilang astaghfirullah…

Jadi intinya gini, sebenernya saya cuma mau peraturan itu ditegakkan, jangan cuma buat embel-embel doang. Kita harus membangun sekolah sebagai tempat yang kondusif sebagai sarana belajar. Saya terkadang jadi malu sendiri, padahal katanya di surat edaran pemerintah tertulis bahwa siswa HARUS memiliki etika minimal BAIK untuk dapat lulus dan naik kelas, jadi sejauh mana penafsiran baik oleh guru-guru terutama guru SMA saat ini yang notabene mereka mengajar di zaman gombalisasi yang segalanya lagi-lagi tidak memiliki harga mutlak (alias bisa ditawar-tawar sesuai kemampuan kantong dan kemauan siswa).

Tuntutan saya cuman satu buat seluruh pemerintah (yang saya harap juga bukan sekadar tukang pemerintah). TEGAKKAN SISTEM PENDIDIKAN YANG MENDIDIK!

Ibadah Kerja

Umur manusia bukan sekadar jumlah deretan waktu, tetapi sejauh mana kita mengisi dan memberi arti. Dengan begitu, makna panjang umur bukanlah berapa lama kita hidup melainkan berapa banyak prestasi amal yang telah kita buat.

Kata iman dalam Alquran pada umumnya diikuti perintah untuk beramal sebagaimana kata shalat yang seringkali dikaitkan dengan kewajiban menunaikan zakat, membantu fakir miskin, dan anak yatim. Tidak sempurna iman seseorang kalau tidak terbukti amalnya. Tidak sempurna shalat seseorang apabila tidak mendorong cinta kasih pada kaum yang lemah dan kekurangan.

Apalah artinya menggeleng-gelengkan kepala berdzikir apabila tidak peduli pada tetangga yang sedang sakit atau menahan lapar. Ibadah ritual menjadi hampa dan kehilangan ruhnya, apabila tidak dimanifestasikan dalam bentuk amal aktual. Dalam sebuah riwayat dikatakan, Khalifah Harun Al-Rasyid pernah bertanya kepada seorang kakek tua renta yang begitu asik menanam kurma, ”Untuk siapakah benih kurma yang kakek tanam ini, bukankah untuk memetik buahnya membutuhkan waktu yang lama?”

Dengan tersenyum sang kakek menjawab, ”Anakku, sebentar lagi aku segera menghadap Sang Kekasih, karenanya benih kurma ini bukan untukku tetapi dia akan menjadi penolongku kelak di akhirat. Semoga benih pohon kurma ini tumbuh dengan subur, buahnya ranum, pohonnya rindang, sehingga burung-burung berkicau, kumbang madu berlomba menikmati sarinya, dan para pengembara melepaskan lelah di bawah daunnya yang rindang.

Kicauan burung, getaran kumbang serta napas lega para pengembara adalah doa dan cahaya terang yang mengiringi diriku di akhirat kelak.” Apa yang dilakukan kakek tua itu tidak lain dari amal aktual, serta memenuhi beberapa untaian hikmah sabda Rasulullah, ”Allah sangat mencintai orang-orang mukmin yang bekerja. Mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah. Seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikul di punggungnya, hal itu lebih baik dari pada meminta-minta yang kadang-kadang diberi kadang-kadang ditolak. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.”

Mereka yang bekerja keras, dapat menjadi wasilah (perantara) untuk memperoleh maghfirah Ilahiyah (ampunan-Nya). ”Barang siapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karna bekerja, bekarya dengan tangannya sendiri, di waktu sore itu pulalah telah terampuni dosanya.” (HR Tabrani dan Baihaqi).

Senandung Lirih di Tengah Kota

bismillah….

Hari ini, pulang sekolah saya pergi ke sebuah pasar di bilangan Mayestik (bilang aja pasar Mayestik gitu) buat beli keperluan ayah saya, yah sekalian nambah pundi-pundi tabungan. Seperti biasa saya long march dari rumah yang berada di Radio Dalam sampai pasar tersebut. Abis itu ya biasa-biasa aja, beli barang-barang terus pulang dengan long march lagi.

Tapi, pas pulang itu saya denger kumandang ayat-ayat suci Al-Qur’an di masjid dekat pasar, dekat pangkalan angkutan umum lah. Tiba-tiba ada perasaan gimana gitu yah…. adem, trenyuh, yah begitu lah pokoknya.

Sebenernya saya agak heran juga, soalnya biasanya masjid di situ mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur’an hanya pada saat akan shalat Jum’at atau pada hari-hari tertentu. Akh, apakah ini pertanda bagi saya untuk merajinkan bacaan saya?

Sayup-sayup suara tersebut hilang sering jalanku, namun surat-Nya itu masih tersirat pekat di anganku. (sore 3 maret 200 8)

Laporan dari Islamic Book Fair 2008

bismillah….

Hari pertama pameran buku Islam (sabtu kemaren), saya rasa kok ya harganya gak jauh beda sama yang ada di etalase toko buku (maklum, saya mau nyari buku berkualitas dengan harga sesuai kantong seorang pelajar). Namun, harga-harganya kompetitif juga antara satu stand dengan stand yang lain, jadi kalo mau beli buku saya saranin mendingan studi banding dulu ke stand lain yang nawarin buku serupa, siapa tau lebih murah gitu :p

Kalo ngeliat pengalaman, harga di hari terakhir emang harga yang bisa bikin hemat, tapi ya itu resikonya…. desek-desekan. Saya sih berniat dateng juga pas hari penutupannya, soalnya saya penasaran sama Pak Habiburrahman (itu lho, penulis AAC). Ada yang berniat juga? Siapa tau bisa ketemuan sama saya, lebih disukai kalo juga membelikan saya satu-dua-tiga-sampai terserah buah buku :p

Ditunggu kedatangannya dan traktirannya =)

Miris, betapa tidak?

bismillah….

Insya Allah mulai hari ini blog ini akan saya isi juga dengan sedikit catatan dari saya, baik itu catatan harian ataupun sekedar catatan iseng =) , maklum masih SMA nih, mohon petunjuknya.

Yang pertama saya tulis hari ini adalah tentang kemirisan hati saya melihat banyaknya orang-orang di luaran sana yang tidak terjamah oleh pembangunan, seperti pengamen jalanan cilik yang lusuh dan tanpa alas kaki di dalam bus kota maupun pengemis renta di terminal yang dicampakkan. Kok ya pemerintah nggak ngerti-ngerti juga sama penderitaan mereka, mereka (pemerintah) malah asik berdebat, ngelepasin penjahat, udah gitu minta mobil baru lagi.

Padahal mereka itu ya ndak ada apa-apanya, sama saja kayak kita-kita ini. Dan apa mereka ndak punya rasa miris atau gimana gitu setiap mbaca koran yang dilanggananin sama dana negara yang jelas-jelas di headlinenya tertera betapa susahnya hidup sekarang di saat harga naik silih beganti tanpa ada yang mau mengalah, sampai listrik yang byar-pet tanpa ada pengertian (sampai-sampai ada di salah satu blog yang saya baca bikin pepatah gajah mati meninggalkan gading, listrik mati meningglkan rekening), saya mengerti kalau jadi pejabat itu nggak gampang, tapi toh sudah sepatutnya pejabat yang menjabat menerima konsekuensi dan tanggung jawabnya bukan seperti yang terilustrasi sekarang, padahal katanya mereka kaum intelek. Kalau mereka berkata bahwa mereka berangkat dari partai yang membela rakyat kecil, maka sudah sepatutnya kita bertanya sama mereka, “Rakyat kecil mana yang pernah Bapak bela?”

Gito Rollies

UploadGambar.Com
“Oh .. Astuti, Tuti, Tuti, namamu jelita. Oh Astuti, Tuti, Tuti, kau adalah gadis idolaku …..,” demikian penggalan lirik lagu Astuti, salah satu yang membuat nama Bangun Sugito alias Gito Rollies mendulang popularitas besar.Kelahiran Biak, 1 Nopember 1947, vokalis band asal Bandung The Rollies ini dikenal terutama dari karakter suaranya yang serak dan gaya panggung energik dan sering meliuk-liukkan tubuh dan tangan saat menyanyi.Ekspresi wajahnya yang kuat menggambarkan suasana hati sesuai lirik-lirik lagu yang dibawakan membuat Gito juga dipercaya sebagai seorang aktor.

Film yang pernah dibintanginya antara lain Kereta Terakhir dan Janji Joni, yang memberinya satu Piala Citra Pemeran Pembantu Pria Terbaik FFI 2005.

Kini, Gito telah berpulang ke Yang Khalik, tepatnya pada Kamis, 28 Pebruari 2008, pukul 18.45 WIB, saat dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, akibat komplikasi penyakit termasuk jantung dan kanker kelenjar getah bening yang diidapnya sejak 2005.

Ia meninggalkan seorang isteri, Michelle, dan empat anak.

Nama Rollies yang disandang Gito berasal dari band The Rollies, yang pernah berjaya di era 1960-1980. Selain Gito, band itu beranggotakan Uce F Tekol, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa dan Teungku Zulian Iskandar.

Tahun 1990-an nama Gito mulai menghilang dan terakhir ia muncul sebagai seorang dai.

Sahabat Gito, promotor konser musik Adrie Subono mengatakan, Gito Rollies sejak Rabu (27/2) menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah, setelah mengeluhkan sakit.

Sempat pingsan dan dirawat di ruang UGD, Gito akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah satu hari menjalani rawat inap di kamar biasa.

Gito terserang kanker kelenjar getah bening sejak 2005, dan sempat menjalani kemoterapi di sebuah rumah sakit di Singapura.

Selain “Astuti”, tembang hits Gito Rollies antara lain Burung Pipit, Hari-Hari dan Cinta Yang Tulus. Ia juga yang mempopulerkan lagu “Bimbi” karya Titiek Puspa.

Pada 1970-an, ia mendapat julukan James Brown Indonesia lantaran menyanyikan lagu “Sex Machine” secara persis sama dengan sang “Godfather of Soul”.

Kepergian Gito Rollies untuk selamanya tentu menjadi kehilangan besar bagi dunia musik di Tanah Air. Popularitasnya sebagai penyanyi rock sejajar dengan Achmad Albar dari God Bless dan Ucok AKA.

Aksi panggungnya yang khas dapat dilihat di era sekarang ini dalam diri antara lain Armand “Gigi” Maulana dan Ian “Radja” Kasela.

Semasa berkarir, Gito Rollies telah menelurkan cukup banyak album, termasuk Goyah, Permata Hitam, Astuti, Tuan Music, Jarum Neraka, Aku, Putri Ayu, Perasaan, dan Sederhana Tapi Nyata.

Keputusannya beralih profesi menjadi dai banyak dipuji masyarakat dan teman-temannya. Langkah serupa dilakukan Harry Mukti, vokalis Makara Band, dan lady rocker asal Bandung Mel Shandy.

Halaman Berikutnya »